Bayangan Hitam - Cerpen

 

Bayangan Hitam


Oleh: Nur Fitrya


Di suatu desa terpencil, di daerah Pasuruan, tepatnya di desa Kalirejo, kecamatan Sukorejo. Hiduplah seorang gadis yang bernama Ilma, dia gadis yang sangat cantik, baik hati,serta perangainya yang terpuji. Tetapi nasibnya sangatlah malang. Dia di perbudakkan oleh ibu tirinya. Dia tetap sabar menghadapi semua itu, karena ini adalah yang terbaik untuk Ilma, di bandingkan dia harus hidup dengan ibu kandungnya, yang tidak mengakuinya sebagai  anak. Terbukti pada saat ibu dan bapaknya bercerai, Ilma langsung dihantarkan ke rumah bapaknya. Pada saat Ilma asyik bermain"Hom pimpa alaihom gambreng......" Ilma tertawa dan larut dalam asyiknya permainan itu, tiba-tiba ibunya langsung menarik tangan Ilma lalu menyeretnya."Mak-Mak....kate gowo nandi aku mak...mak"jerit Ilma sambil menangis."Meneng!!!"lanjut ibu Ilma sambil melirikkan matanya. Sehingga menjadikan Ilma terdiam dan menunduk ketakutan. Pada saat itu,dia dibawa ke rumah bapaknya .Ilma sangatlah bahagia dia menganggap ibunya akan bersatu lagi dengan bapaknya.dan mereka akan bahagia lagi seperti dulu.Tetapi dugaan Ilma sangatlah bertolak belakang. Ilma malah di serahkan kepada bapaknya."en....anaken kalak!engkok tak endek, bene tang anak jiah!buduken been".kata ibu Ilma dengan sadis sambil mendorong Ilma ke hadapan bapaknya."ndak .....emaakk......" lanjut Ilma sambil memegang tangan ibunya."opo se Il!wes melok.o  bapakmu!!!? sahut ibu Ilma ,sambil melepaskan tangan Ilma dan pergi meninggalkannya. "Emaakk......"jerit Ilma,sambil menghentak-hentakkan kakinya ke tanah. Sementara itu bapaknya segera merangkul dan berusaha menenangkannya. "wes nak wes nak Ilma kan arek pinter,ojok nangis nggeh...?ndak popo...Ilma  bubuk ndek kene,karo bapak nggeh...."kata bapak ilma sambil mengelus-elus rambut Ilma."Emo....pak emo...."sahut Ilma sambil menggelengkan kepalanya.

Pada saat itu Ilma masih berusia 10 tahun.sungguh malang nasibnya, dia ditinggal oleh ibu kandungnya,dia masih sangat membutuhkan kasih sayang,cinta kasih, serta pelukan seorang ibu.

Hari demi hari dia jalani, tetapi diselang waktu dia teringat akan sosok ibunya, merindukan sosok ibu yang biasanya menemani dia dimana pun dia berada. Sekarang hidupnya terasa hampa, sepi, hanya sosok bapak saja yang dapat ia pandang. Ilma sering melamun, serta menyendiri di kamarnya.

Ketika hujan turun dengan lebatnya, suara petir menggelegar, dan kilat pun menyambar. Ilma langsung kaget dengan spontan dia memanggil nama "Emaakkk......" Bapak Ilma pun terkejut mendengar Ilma memanggil nama emak. Dia langsung menghampiri Ilma yang ada di kamarnya serta langsung merangkulnya."Opo.o nak....?tanya bapak Ilma."emak....pak?aku kangen emak?"sahut Ilma sambil mengusap air mata yang ada di pipinya. Bapak Ilma pun tak kuasa mendengar keluhan Ilma. Dia juga menitihkan air mata, tetapi dengan cepat ia bersihkan, karena takut terlihat oleh Ilma.

Di pertengahan bulan Juli biasanya terdapat satu hari,yang dapat membuat anak sekolah itu kebingungan, susah, disertai dengan sakit perut, karena takut dirinya tidak naik kelas atau tidak bisa meraih juara. Begitu halnya dengan Ilma,dia bingung serta kesusahan. Tetapi kebingungannya bukan karena dia takut tidak naik kelas atau tidak mendapatkan juara, melainkan dia bingung siapa yang nantinya akan mengambil raportnya. Sedangkan bapaknya tidak bisa cuti dari pekerjaannya."Pak...tadi kata bu guru besok itu pengambilan raport, bapak dateng ya, karena kalau bapak gak datang raportnya gak akan di bagikan sama bu guru..." Kata Ilma sambil membuang uban yang ada di kepala bapaknya “Apa nak besok ?tapi bapak gak boleh loh sama atasan bapak "sahut bapak Ilma dengan nada rendah,"iih...bapak...coba ada emak, pasti kebingungan ini gak akan terjadi"kata Ilma sambil mengerutkan dahinya."oh....ya wes ya wes bapak janji besok bapak akan ambil raport Ilma, tapi bapak datang agak telat dikit ya, soalnya bapak besok tetap masuk kerja,dan minta izin dulu ke atasan bapak"ujar bapak Ilma seraya meyakinkan Ilma."Hore...janji ya pak"semangat Ilma.

Keesokan harinya, Ilma kebingungan karena sebentar lagi bu guru akan memulai pembagian raport, tetapi bapaknya masih juga belum datang."Ilma...kemana nak orang tuamu"ujar sang guru. "Ada kok bu....ada"sahut Ilma sambil kebingungan. "kalau ada kok gak datang kesini,gimana raport kamu tidak bisa ibu serahkan langsung kepadamu"lanjut ibu guru."Iya...bu iya bu saya paham, tunggu sebentar ya bu, pasti bapak saya datang kok"sahut Ilma sambil meyakinkan."Tapi ibu tidak bisa menunggu terlalu lama, soalnya ibu masih ada urusan". Ilma pun semakin kebingungan,dan hampir saja dia akan menjerit,untungnya bapaknya datang."Bapak....."jerit Ilma sambil menghampiri bapaknya."Ayo pak,bu guru udah nunggu bapak dari tadi"sambil menarik-narik tangan bapaknya.Satu hal yang tidak di duga,ternyata Ilma mendapat juara 1."Selamat ya pak...putri bapak mendapat juara 1"ujar bu guru."Alhamdulillah...."sahut bapak Ilma dengan penuh senyuman."makasih ya nak,atas kadonya,bapak seneng banget"kata bapak Ilma sambil mencium Ilma."kado apa pak?perasaan Ilma gak ngasih apa-apa ke bapak???"sahut Ilma dengan kebingungan."kamu itu mendapat juara satu di kelas...."kata bapak Ilma sambil memegang hidung Ilma."Alhamdulillah......hore....,hadiahnya mana pak" Sahut Ilma dengan memekarkan tangannya ke hadapan bapaknya."oh....iya....gimana kalaukita jalan-jalan sambil makan-makan di taman "kata bapak Ilma dengan sumringah. "iya pak ,iya pak Ilma setuju"sahut Ilma sambil mengangguk-nganggukkan kepalanya.

Di temani sepeda pohong(sepeda ontel) Ilma dan bapaknya pergi ke taman. Sesampainya di taman, Ilma pun kebingungan,karena dengan ia datang ke taman ini, mengingatkan dia pada masa kecilnya bersama ibunya. Di taman ini, dia sering bermain bersama ibunya. Tetapi Ilma berusaha untuk tidak mengingat-ingat tentang kejadian itu, agar bapaknya tidak ikut bersedih.

Pertengahan bulan September, pada saat itu bulan ramadhan, Ilma sebagai orang islam harus berpuasa. Meskipun dia masih berusia sepuluh tahun. Hal ini di lakukannya agar dia bisa melatih dirinya sejak kecil. 

Di suatu sore, Ilma melamun, dia teringat tahun kemarin pada saat bulan puasa, bapak dan ibunya serta dia selalu kompak, biasanya mereka sholat tarawih bareng, buka puasa bareng serta makan sahur bareng. Tapi kebahagiaan itu telah sirna, warna-warni kehidupan telah pudar."Sekarang tinggal aku dan bapak saja, apa yang akan aku lakukan di bulan yang penuh berkah ini"pikir Ilma. Tiba-tiba bapaknya datang"Ilma ....ayo... nak kita buka puasa di luar saja yok...,kata bapak Ilma sambil mengeluarkan sepeda ontelnya "oh....iya pak ayo..."sahut Ilma dengan bersemangat. Tetapi sebenarnya dia tidak ingin makan di luar, dia ingin seperti dulu lagi, berbuka puasa di rumah, dengan menu masakan buatan ibunya. 

“Allahu Akbar Allahu Akbar... “Adzan isya pun berkumandang shalat isya dan shalat tarawih pun segera dilaksanakan oleh orang islam. Begitupun dengan Ilma, dia segera bergegas mengambil wudhu. Setelah selesai berwudhu, dia teringat sosok ibunya. Biasanya mereka shalat tarawih bareng, tetapi sekarang Ilma sendirian pergi ke mushola "Andai ada mak pasti aku gak akan sendirian.

"Sahur..sahur...sahur.."Suara anak patrol pun menggema. Ilma pun terbangun dari tidurnya, ternyata bapaknya sudah menyiapkan menu sahur."Eh...Ilma ayo nak makan sahur..."kata bapak Ilma "Iya pak. Ilma cuci muka dulu" Sahut Ilma sambil menuju ke kamar mandi.Sesampainya di meja makan .Ilma pun terkejut, biasanya meja ini penuh dengan masakan ibunya yang enak-enak. Tapi sekarang hanya tersedia mie dan telor ceplok saja."Ayo nak makan, kok diliatin aja? Kenapa gak enak ta?" Ujar bapak Ilma."Kata siapa enak kok pak. Ini makanan kesukaan Ilma.."Sahut Ilma sambil bergegas mengambil piring."Maaf ya nak...bapak gak bisa masak yang enak, cuma ini saja yang bisa bapak lakukan." Kata bapak Ilma sambil mengelus-elus rambut Ilma."Gak papa ..pak ini pun sudah lebih dari cukup."Sahut Ilma sambil tersenyum.

Hari kemenangan pun segera tiba, orang-orang biasanya berbondong-bondong untuk membeli baju ke pasar. Begitupun dengan Ilma, dia juga menginginkan baju baru. Tiba-“Assalamu’alaikum..” sambil mengetok pintu."Ndukk..coba lihat...bapak bawa apa..?"Kata bapak Ilma dengan bersemangat."Apa pak?"Sahut Ilma sambil membuka bungkusan kresek. Ternyata di kresek itu terdapat baju."Oh..baju ya pak..makasih ya"ujar Ilma sambil mencoba bajunya."Gimana nak kamu cocok bajunya. ?"tanya bapak Ilma."Iya pak Ilma cocok"Sahut ilma dengan bersemangat. Sebenarnya di dalam hatinya dia tidak cocok dengan baju itu, tapi karena demi senyum bapaknya dia bilang cocok.  

“Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar lailahaillah huwallahu akbar,Allahu Akbar walilla hilkham...."Gema takbir pun menggema. Semua orang bahagia, menyambut hari kemenangan. Tetapi lain halnya dengan Ilma, dia sangatlah sedih melihat semua teman-temannya bahagia bersama ibunya masing-masing. Pada saat itu Ilma tak kuasa menahan tangisnya"Mak....." Ilma pun menjerit."apa nak.. apa nak wis gapapa, wis cup Ilma jangan nangis.."Kata bapak Ilma sambil merangkul Ilma. Di hari itu Ilma sama sekali tidak menikmati indahnya hari Fitri, malah dia tersiksa batinnya dalam merenungi nasibnya tanpa adanya ibu di sampingnya.

Di suatu malam Ilma dan bapaknya duduk di ruang tamu, mereka bersantai dan bersendau gurau, ditemani dengan nyanyian jangkrik. Mereka pun larut dalam gurauan itu. Tiba-tiba Ilma bertanya"Pak... gimana kalau bapak kembali lagi dengan emak, soalnya Ilma ingin banget seperti dulu lagi, tolong ya pak kembali lagi..."gak bisa nak.. bapak dan mak gak mungkin kembali lagi seperti dulu"Sahut bapak Ilma."Apa sih pak yang gak mungkin di dunia ini asalkan kita niat pasti akan terjadi"Sahut Ilma sambil meyakinkan."gak bisa nak.. mungkin kalau kamu sudah besar, kamu akan ngerti"Ujar bapak Ilma."Bapak gak kasihan sama Ilma.."Sahut ilma sambil cemberut. Bapak ilma pun kebingungan mencari cara supaya Ilma bahagia lagi seperti dulu"Apa aku kawin lagi ya.. supaya Ilma punya ibu.."Pikir bapak Ilma. Setelah dipikir matang-matang dan keputusan pun sudah bulat, bapak Ilma pun kawin lagi.Dia pun berencana akan menikahi janda beranak satu,janda itu bernama Ton. Ton pun mau menerima lamaran bapak Ilma. Tetapi dia tidak setulus hati menerima lamaran tersebut. Sebenarnya Ton itu ada maksud tersembunyi"Ada udang di balik batu"Dia bermaksud untuk mengambil semua kekayaan yang dimiliki bapak Ilma.

Hari itu hari pertama Ilma mempunyai ibu baru, dia memanggilnya dengan nama Ibuk Ton, awalnya ibuk Ton ini bersikap baik terhadap Ilma. Ilma pun diperlakukan seperti anak sendiri selama satu minggu Ilma diperlakukan seperti anak manja,dan dia pun sangat bahagia."Bapak..makasih ya, bapak telah memberikan pengganti mak, aku sekarang gakk kesepian lagi.."kata Ilma sambil merangkul bapaknya. "Iya nak sama-sama " Syukur bapak Ilma, dia lega bahwasannya usahanya itu tidak sia-sia, dan dia berharap kebahagiaan itu tidak luntur dan tetap masih ada hingga akhir hayatnya.

Di satu sisi, Ton pun mulai memainkan skenarionya. Suatu ketika, bapak Ilma masih bekerja, Ilma dipanggil oleh ibuk Ton."Il...kene ngepelo..!!!!" Bentak ibuk Ton. "Aku kesel buk..""Kesal-kesel ngepell!!!"Bantah Ton sambil menjewer telinga Ilma. Ilma pun ketakutan dia segera mengambil kain pel"Seng bersih lek ngepel..!!"Kata Ton sambil melirikkan matanya dengan sinis. Ilma pun semakin ketakutan, dia tidak berani menatap wajah ibu tirinya itu.

Hari pun mulai sore, bapak Ilma pulang ke rumah. Pada saat itu Ilma sedang duduk-duduk bersama ibu tirinya di ruang tamu."Assalamu'alaikum.."Ujar bapak Ilma."Waalaikumsalam.."Sahut Ilma dan Ibuk Ton."Wahh..kalian kompak banget..."Ujar bapak Ilma."Oh..pasti..."sahut Ton dengan penuh semangat."Pak tadi aku ngep..."Kata Ilma tetapi tidak dilanjutkan karena dicolek oleh Ibuk Ton."ngep...apa nak."Sahut bapak Ilma dengan kebingungan "Ngepresin ijazah.."Sahut ibuk Ton dengan cepat."Emang ijazah apa.kan SD belum lulus..?"ujar bapak ilma dengan menggaruk-garuk kepalanya."yaa..ijazah TK lah pak.."Lanjut ibuk Ton dengan santai."Oh.....Pinter..,ya gitu biar ijazahnya tidak rusak.."Sahut bapak Ilma sambil mengelus-elus rambut Ilma. Ilma pun kebingungan, 

Di suatu sore, saat bapak Ilma pergi ke warung. Ilma dipanggil oleh ibu tirinya"Il..kene..!!!"Ujar ibuk Ton sambil mbentak-mbentak."Opo bu...."Sahut Ilma dengan nada ketakutan."Heh..koen iku ojok kondo-kondo nang bapakmu, lek koen tak kongkon ngepel, lek koen sampek kondo mati koeen!!"Ujar Ibuk Ton sambil menarik rambut panjang Ilma."Opo.o buk aku kan anake bapak.."Jawab Ilma."Mbantah ae!!"Kata Ton dengan melirikkan matanya dan semakin menarik rambut Ilma. Ilma pun menjerit"Aduuuhhh..." Tiba-tiba ayahnya datang"Assalamu'alaikum..."."Heh!! meneng"Ujar Ton kepada Ilma."Loh...anak bapak, kenapa kok nangis nak..???"Tanya bapak Ilma dengan penuh curiga kepada istrinya."Ohhh gak papa, tadi itu Ilma habis makan sambel dan dia lupa gak cuci tangan, lalu secara gak sengaja dia mengusapkan tangannya ke matanya.."Jawab Ton dengan meyakinkan."Oh.....gitu..cup-cup-cup.."Ujar bapak Ilma sambil mengelus-elus rambut Ilma.

Keesokan harinya,"Ilma...sini nak..ayok sarapan"Kata Ibuk Ton sambil membawa sepiring nasi."Wah.. pinter banget anak bapak, untungnya kamu punya ibu sebaik dia"Kata bapak Ilma sambil senyum-senyum. Beberapa menit kemudian,bapak Ilma berangkat kerja. Ilma pun kembali bahagia, karena tadi perilaku Ibuk Ton itu dikiranya sungguhan. Tapi keadaan berubah 360 derajat.Setelah keberangkatan bapaknya, tiba-tiba Ibuk Ton langsung mengamuk dan mendorong Ilma ke lantai"Age Il....baumba"Kata Ibuk sambil membuang pakaian kotor ke wajah Ilma."Loh ..buk saya kan mau sekolah"Sahut Ilma."Sekolah-sekolah,iki loh sek jam enem,ageee!!!"Ujar Ibuk Ton sambil mbentak-mbentak."Lah engkok lek telat bu..."ujar Ilma. "Gakngoros!!!, pokok lek koen gak baumba gak tak kei sangu..!!!" Bantah Ibuk Ton. Akhirnya Ilma mencuci baju-baju tersebut. Dia tidak diperbolehkam mencuci baju di kamar mandi, melainkan harus mencucinya di sungai. Bagi anak yang berumur 10 tahun mencuci baju itu tidak mudah, apalagi cucian tersebut sangatlah banyak ditambah kondisi geografis sungai yang terjal. Sesampainya di sungai Ilma kebingungan, karena aliran sungai itu sangatlah deras. Satu hal yang tak diduga, baju kesayangan ibuk Ton itu hanyut terbawa arus sungai. Ilma berusaha mengambil baju tersebut, tetapi karena aliran sungai itu deras sekali, dia gagal mengambil  baju tersebut. Dengan penuh penyesalan dan rasa takut yang berlebihan, Ilma pun memberanikan diri mengatakan apa yang sebenarnya terjadi kepada ibuk ton."Buk ...maaf ya baju pink yang tadi ibu suruh cuci, hanyut terbawa air..." "Apa...hanyut! itukan belinya mahal...." sahut ibu Ton dengan melirikkan matanya."kamu gak mungkin bisa gantiin baju itu!" lanjut ibu ton."maaf bu...maaf..."sahut Ilma sambil memohon-mohon."Tapi asalkan uang saku kamu ibu ambil.tapi gak hari ini saja, melainkan dua minggu"kata ibu Ton dengan sinisnya."iya wes gak papa, asalkan ibu maafin kesalahan Ilma, Ilma ikhlas"sahut Ilma dengan menitihkan air matanya.

Selama dua minggu Ilma tidak mendapatkan uang saku, untungnya dia masih punya celengan, sehingga ia masih bisa membeli kue di sekolahan. Andik, anak dari ibu Ton itu tau kalau Ilma tidak diberi uang saku oleh ibunya. Dia pun curiga, kenapa Ilma masih bisa beli jajan. Andik pun mengadukan hal itu kepada ibunya"Mama...kata mama kemarin uang saku Ilma selama dua minggu itu diambil mama, tapi tadi kok Ilma bisa njajan..aku curiga deh.."Sambil mengetuk-ngetuk kepalanya."Apa..si corot itu masih bisa njajan, awas nanti ya.." Kata Ton sambil meletakkan kedua tangannya si pinggang.

Ilma datang dari tempat TPQ nya."Assalamu'alaikum...."Ton  pun langsung melirikkan matanya dengan sinis. Ilma pun ketakutan, dia langsung menundukkan kepalanya."Il.. sini!!!"sambil meletakkan kedua tangannya di pinggang. Ilma pun ketakutan, dia segera menghampiri ibuk Ton."nopo bu...?"sambil menundukkan kepalanya."Il... kamu dapat uang dari mana. Kok kamu di sekolahan bisa njajan!"Sambil mencubit pipi Ilma."Anu...buk aku punya celengan..."Sahut Ilma sambil menitihkan air mata. "Mana sekarang celenganmu!"Ujar Ton dengan sinisnya."ya sudah gak ada buk.."kata Ilma dengan nada rendah."Awas ya kalau sampek ada, kamu akan tau akibatnya."Ujar Ton sambil berjalan menuju kamar Ilma."Kamu itu belajar bohong!"Ujar Ton sambil mencari uang yang berada di sela-sela lemari. "Jangan brantakin bu..bajuku bu..:Ujar Ilma sambil menangis. "Mbantah ae koen iku!"Sahut Ton dengan kerasnya. Ilma pun semakin ketakutan. Dia meratapi hidupnya yang serba salah."Lah.. iki opo cek akehe duwek mu.. koen nyolong ta.."sambil mengetuk jidat Ilma."Enggak bu.. aku gak nyuri.."sambil menggeleng-gelengkan kepalanya."Pokoknya uang ini,ibu ambil.!"Dengan sinisnya."Jangan bu..jangan..nanti Ilma njajan apa bu.."sahut Ilma dengan memohon-mohon."Emang gue pikirin.."Sambil menginjak kaki Ilma."buk.. aku kan anake peyan.."sahut Ilma sambil menjerit."Apa anak..Helloooo....."Kata Ton sambil menutup pintu kamar Ilma dengan keras, serta meninggalkan Ilma di kamar sendirian. Ilma pun semakin tersiksa, dia pun ingin sekali mengadukan hal itu kepada bapaknya, tetapi dia takut sekali kepada ancaman ibunya itu.

       Di sekolah,Ilma pun tidak njajan untungnya temannya yang bernama Dina baik, dia pun membelikan Ilma kue."Il..Ini lo..jajan" Kata Dina sambil menyulurkan sepotong kue. "Ya wes.. makasih Din.."Sahut Ilma dengan nada rendah."Gak papa..udah makan aja.."Kata Dina sambil tersenyum."Ya wes.. makasih ya.."

Pada hari itu hasil ulangan matematika dibagikan. Ilma pun mendapat nilai tertinggi di kelas itu. Andik yang satu kelas dengan Ilma sangat iri, ditambah dengan diberinya buku oleh guru matematika itu. Andik pun semakin iri. Hasil ulangan itu harus ditandatangani oleh orangtua, sehingga Andik dan Ilma meminta tanda tangan itu kepada orangtuanya

Sore yang melelahkan, semua anggota keluarga berkumpul di ruang tamu. Tiba-tiba Ilma berucap"Pak.. aku dapat nilai tertinggi ulangan matematika, terus ini pak tanda tangan"Sambil menyulurkan hasil ulangan dan bolpoin. "Wahh..pinter banget. Terus Andik mana hasil ulangan kamu nak?"tanya bapak Ilma."Oh..ada pak bentar aku ambilin.."sahut Andik sambil menuju kamarnya. Tiba pada saat giliran hasil ulangan Andik yang akan ditanda tangani"Waduuh..yo opo le..ulangan kok ole endok..,koyok Ilma iki lo pinter ole seratus..."Kata bapak Ilma sambil sambil senyum-senyum."Ala..palingo yo ole nyonto.."Sahut Ton sambil mengece."Wis..ayo le... mrono wegah ndelok wong tuwo mbedak-mbedakno anak.."Lanjut Ton sambil menggibaskan rambutnya dan pergi bersama Andik.

Karena Ilma itu anak yang cerdas maka dia diikutkan lomba cerdas cermat tingkat kecamatan oleh gurunya. Dan Alhamdulillah Ilma mendapat juara satu."Bapak..Ilma,juara 1 sekecamatan lomba cerdas cermat..."Sambil menyulurkan piala yang didapatnya."Alhamdulillah...bapak bangga nak, sebagai hadiah ayok kita makan-makan di kedai"Kata bapak Ilma dengan semangat."Ayok.."Sahut Ilma dengan girang.

Sesampainya di kedai,Ilma dan bapaknya makan-makan. Tetapi meskipun begini dia masih belum bahagia karena dalam pikirnya masih teringat kekejaman ibu tirinya. Dia pun ingin sekali mengadukan hal ini kepada bapaknya. Tapi dia sangat takut. Hatinya pun terus berkata-kata"bilang enggak ya..(7 kali)"Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya."Kenapa kamu Il..kok aneh banget.."tanya bapak Ilma sambil senyum-senyum."Ayoo..kenapa,cerita aja sama bapak.."Ujar bapak Ilma dengan penuh keheranan."Sebenernya..."Sambil gemetar."Ada apa Il...?""Sebenarnya.....eeem...Ibuk Ton itu jahat banget sama aku,setiap hari aku disuruh ngepel, nyuci baju,dan yang terakhir selama satu bulan ini aku gak dikasih uang saku.."Ujar Ilma sambil menangis."Apa nak..kamu kok gak cerita sama bapak"Sahut bapak Ilma dengan spontan."Aku takut pak.."sambil merintih.Saat itulah bapak Ilma tau apa yang terjadi sebenarnya.


Komentar

Postingan Populer