Pria Kalajengking - Cerpen
PRIA KALAJENGKING
Oleh: Inna Zahrotul Layyina
Waktu itu....
“Hmm, kalau aku minta sesuatu boleh?“ tanya Zahro.
”Kamu mau minta apa, nduk?“ jawab seorang laki-laki beruban. Zahro pun menjawab “Tas, boleh yah? “
“Owalah iya, besok kita beli di pasar.“ Kata ayah sambil tersenyum.
Keesokan hari....
Pagi yang cerah terasa dingin nan sejuk yang tak di duga-duga kehadirannya. Semua orang bersiap untuk mengisi waktu libur bersama keluarga. “Hati-hati di jalan,“ kata perempuan yang telah melahirkan dia.
“Iya bunda... “ jawabnya. Zahro pun pergi ke pasar bersama ayahnya untuk membeli sebuah tas baru. Selama perjalanan dia berbincang-bincang dengan ayahnya.
“Nduk, dulu ayah punya cita-cita jadi tentara lho...” Kata ayah.
“Iya yah? Tapi kok ayah sekarang nggak jadi tentara malah jadi seorang guru?” tanyanya.
”Berarti jadi tentara itu bukan takdir ayah, takdir ayah sekarang adalah jadi seorang guru. Asal kamu tau, guru itu sangatlah mulia. Kalau nggak ada guru nggak akan ada yang namanya pinter. Iya nggak?“ ayah menjelaskan.
“ Iya sih,” tanggapku.
==========
Hari ini pasar sangat ramai, sampai parkiran saja tidak cukup. Mau gimana lagi, ayahnya harus memarkirkan kendaraan jauh dari pasar. Dia harus berjalan jauh dulu untuk sampai di pasar.
“Yah, aku mau lihat-lihat tas disana dulu ya?” pinta Zahro.
“Iya nduk jangan jauh-jauh.” Kata ayah.
Zahro pun terus berjalan tanpa menghiraukan perkataan ayahnya tadi. Zahro bingung memilih tas, semua yang dilihatnya bagus tapi terkadang warnanya bagus, eh ternyata modelnya jelek. Penjual juga memberi saran kepada keisya agar teliti memilih tas.
Saat Zahro akan menuju kasir tiba-tiba ayahnya memanggil. Dia cepat-cepat membayar tas yang dipilihnya. Lalu menghampiri ayahnya. Ternyata ayahnya ada di toko perlengkapan tentara. “Hmm ayah pasti mau beli sepatu tentara.” Batinnya.
Di rumah Zahro banyak sekali sepatu besar-besar. Ya siapa lagi kalau bukan ayahnya yang membelinya. Jadi kalau ada acara olahraga ayahnya pasti memakai sepatu tentara. Lagian tempat ayahnya mengajar itu deket asrama tentara. Setiap ayahnya berangkat mengajar pasti ada tentara latian baris-berbaris.
==========
Waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 WIB. Tapi ayahnya belum juga beranjak dari tempat duduknya. Ayahnya sedang berbincang-bincang dengan seseorang yang Zahro pun tak tahu itu siapa. Orang itu asing dan menurut dia ayahnya juga baru saja mengenalnya.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya ayahnya berdiri dan pamit kepada pemilik toko dan orang asing itu untuk pulang duluan.
Zahro pun bertanya “Siapa orang tadi yah?”
“Dia asisten Jendral.” Jawab ayah.
“Kok ayah bisa kenal?” tanya Zahro lagi.
“Ayah baru kenal ya tadi itu, pas kamu milih-milih tas.”
“Terus ayah tadi ngomongin apa aja? Kok lama banget.”
“Nanti aja di rumah ayah kasih tau.” Jawab ayahnya singkat.
“Kenapa ya? Kok nunggu di rumah ceritanya.” Batin Zahro
Selama perjalanan Zahro terus terbayang-bayang keingintahuan, apa sih yang di omongin ayahnya sama orang asing tadi? Dia takut ada apa apa.
Sesampai di rumah....
Rasa ngantuk menyerangnya. Dan Zahro pun tertidur di ruang tengah. Hari yang sangat melelahkan buatnya. Mencari sebuah tas yang hampir semua dia sukai. Semuanya bagus, unik, indah dilihat, dia bingung!! tapi dia sudah menemukan tas yang menurutnya paling bagus dari yang lainnya, dan dia membelinya. Zahro melupakan pertanyaannya kepada ayahnya.
Keesokan harinya ada seseorang yang mengetuk pintu rumahnya. Ayah pun mengambil kunci dan membuka pintu depan. Tiba-tiba....
“Lho kenapa orang itu ke sini?” tanya Zahro terkejut.
“Itu temen ayahmu nduk.” Jawab bunda Zahro.
Bundanya pun bercerita tentang asal-usul orang itu.
“Ayah dan orang itu menyepakati sebuah transaksi cuci gudang yang selama tidak ada yang membelinya. Niat ayah membeli adalah untuk menolong orang itu dan juga membantu masyarakat sekitar biar tidak ketinggalan teknologi.” Jelas bundanya.
“Trus, ayah beli apa aja? Dan harganya, emang nggak mahal?” tanya Zahro
“Ayah beli banyak, ada mobil, sepeda, televisi, handphone, kamera. Harganya itu cuma puluhan ribu nggak ada yang ratusan ribu.“ Jawab bundanya.
“Hah..., kok bisa bun,” jawabnya kaget.
“Kan cuci gudang.” Jawab bundanya sambil berjalan kearah dapur.
Bundanya pun membuatkan minuman untuk orang itu. Zahro masih terheran-heran dengan semuanya. Bagaimana bisa barang semahal itu jadi murah meriah kayak gitu. Bundanya juga awalnya nggak percaya tapi ayahnya terus menyakinkan.
===========
Sudah beberapa hari orang itu mengginap di rumah Zahro. Ayahnya selalu baik terhadapnya. Mulai dari membelikan sepatu (orangnya yang minta ke ayah Zahro), menyuguhkan makanan dan minuman setiap hari (harus ada susu sama buah-buahan), memberinya tempat tinggal sementara, dan masih banyak lagi. Orang itu setiap malam hari berbincang-bincang dengan ayah Zahro. Sampai pada suatu malam orang itu bercerita bahwa dulu dia pernah di guna-guna sama seseorang sampai kaki orang itu keluar kalajengking setiap malam. Dan pada saat itu juga orang itu meminjam uang kepada ayah Zahro. Dan meminta uang muka transaksi jual beli.
Hari ini , tepat hari ketujuh orang itu tinggal di rumah keluarga Zahro. Tiba-tiba....
“Pak saya mau pergi dulu. Besok saya kembali dengan membawa barang yang saya janjikan dan jendral saya juga mau ikut kesini,” kata orang itu dengan memakai sepatu pemberian ayah Zahro.
“Tenang saja pak, saya tidak akan mengingkari janji, saya akan kembali kesini dan ini nomer handphone saya.“ Imbuhnya.
“Ya pak, saya akan menunggu anda dan bapak jendral anda.” Kata ayah Zahro
Orang itu pun pergi dari rumah Zahro dengan memakai sepatu baru yang dibelikan oleh ayah Zahro dan sepatu yang lama ditinggal di rumah Zahro.
===========
Hari berikutnya, semua orang di rumah sibuk menyiapkan hidangan untuk bapak jendral yang akan datang ke rumah. Ruang tamu, taman depan rumah semua dirapikan. Seakan-akan seperti menyambut hari raya. Ayah Zahro tampak sangat bahagia dan penuh harap.
”Semoga saja semuanya akan baik-baik saja,” kata bunda.
“Iya bun.” Jawab ayah.
Akhirnya semuanya terjawab.......
Jarum jam terus berdetak, tapi tak ada tanda-tanda orang itu kembali. Ayah Zahro pun terus menelpon orang itu. Tapi nihil, tidak diangkat. Ayah semakin gelisah. Pagi, siang, sudah terlewat begitu saja. Hari sudah mulai gelap, matahari pun sudah lelah, tetap saja tak ada tanda-tanda satupun. Semua persiapan sudah matang, semuanya terjawab cuma-cuma. Orang itu tidak kembali, ia ingkar janji. Semenjak itu ayah Zahro jadi tidak banyak bicara. Selalu diam dan terlihat sangat kecewa. “Itu adalah pelajaran terindahku, terima kasih bapak Dimas Prasetyo.” Pinta Ayah Zahro.
BIOGRAFI PENULIS
Inna Zahrotul Layyina lahir di Malang tanggal 9 Juni tahun millenium ketika matahari mengakhiri tugasnya. Putri sulung dari tiga bersaudara. Lulusan Madrasah Tsanawiyah Almaarif Singosari dan sekarang menimba ilmu di Madrasah Aliyah Almaarif Singosari ini berdomisili di Pondok Pesantren Putri Al -Ishlahiyah. Tempat tinggal kedua orangtuanya di Malang tepatnya di daerah kabupaten. Tim pendukung pembuatan cerpen ini adalah kedua orangtuanya. Mereka selalu memberi semangat belajar dan tak lupa terus mendoakan. Ucapan tak terhingga. Serta dia berharap dapat memberi manfaat kepada pembaca cerpen ini.
Instragram : @aniyyal
Facebook : Inna Aniyyal
Komentar
Posting Komentar