Sima Si Malang - Cerpen

 Sima Si Malang

Oleh: Gusti Ayu Puspaningrum

Aku sima anak yang santun dan pintar. Waktu telah berlalu aku sebagai putri dari anak orang yang tidak mampu yang sekarang telah usai pendidikanku. Aku hanya punya keinginan pergi ke kota besar seperti teman-teman lainnya namun kedua orang tuaku tidak ada yang setuju atas ke pergian ku.

***

Pagi itu aku menemui bapak ku untuk meminta izin kepadanya. Alangkah baiknya aku yang memulai percakapan itu.

" bapak, sima mau ke kota mau cari pekerjaan biar bisa membantu bapak cari uang.? Kata sima dengan nanda rendah

" mau kerja apa, kalau kerjanya sama mending cari kerja yang deket daerah sini tidak usah jauh jauh. Kata bapak sima dengan lembut. 

Disitu sima merasa sedih dan kecewa atas perkataan bapaknya namun sima tidak berkunjung putus asa di bertanya kembali kepada ibuknya.

***

Tidak lama kemudian bapak sima pulang dari sawah, bapak sima hanya pasrah dan ikut juga mensetujui anaknya itu pergi ke kota barat asalkan seminggu sekali sima pulang kerumah jengung bapak ibuk. Itu janjinya orangtua kepada sima.

Hari berganti hari suasana rumah penuh kegembiraan dengan adanya sima ingin berkemas pergi ke kota barat. Berselang waktu demi waktu di kota orang sima mulai tidak nyaman di kota barat itu dengan keluh kesahnya kepada temannya dia mendapatkan kabar dari temannya yang sekarang sukses dikota timur sima merasa tergiur dengan iming-iming gaji temannya yang lumayan banyak dari pada sima.

Kemudian sima memutuskan kerjanya dikota barat selesai dan kembali kerumah. 

***

Jiwa sima mulai bergembu gembu ingin pergi ke kota timur tidak butuh dengan adanya akibat dan faktor apa yang terjadi pada dirinya , mendengar kabar sima sekarang sukses dikota timur, sima tidak sengaja berjumpa dengan seorang pemuda yang sama-sama bekerja disana dan saat ini sima jarang sekali pulang kekampung halamannya hanya sekedar telfon jika sima ingat dengan orangtuanya. Sima sangat bahagia berkenalan dengan pemuda baru itu namun sima sering fokus jalan-jalan dengan pemuda itu dari pada pekerjaannya. Setelah itu sima yang wataknya egois serta keras kepalavsekarang suka membantah perintah dan nasehat orang tuanya. Entah faktor apa yang terjadi pada diri sima. Kedua orang tuanya hanya berdoa yang terbaik untuk anak sematang wayangnya tersebut. 

***

Pada pagi harinya sima bertelfon kepada bapaknya bahwa ingin melihat kondisi orang tuanya yang ada dirumah namun hati sima itu sangatlah berat untuk meninggalkan pemuda itu. Sesampai dirumah sima cukup berbeda sekarang wajah sima menjadi wanita cantik namun dengan kecantikan wajahnya sima sekarang semakin sombong kepada orangtuanya, sima merasa punya segalanya dan sima lupa siapa yang merawat sima sejak kecil dan sima berani berkata kasar kepada ibuknya. Ketika ibuk sima menyuruh sima untuk menyapu halaman rumah justru sima membantah perkataan ibuknya.

***

" kalau ibuk bisa membersihkan halaman itu ibuk saja yang bersihkan, apa tidak tau sima lagi sibuk! Dant idak usah ganggu ganggu sima lagi sima capek. Kata sima sambil membentak ibuknya.

Saat kembali kekota timur sima tidak pernah berkomunikasi dengan orangtuanya sima tidak ingin tahu kabar orangtuanya sima hanya ingin berbahagai dan bersenang-senang dengan pemuda yang dia kenal dikota timur itu. Akhirnya waktu libur kerja sudah tiba, saatnya sima berencana mengelilingi antar kota bersama pemuda itu. Berangkat waktu pagi ditengah jalan sima merasa lelah dan ngantuk dengan pemuda itu. Seharunya sima istirahat terlebih dahulu namun sima dan pemuda itu memaksakan diri untuk melanjutkan perjalanan tiba-tiba tidak lama kemudian kecelakaan itu terjadi. Sima tidak bisa berjalan sama sekali itu dan tidak tahu dirinya ada dimana hanya bisa menangis sambil memanggil nama bapak dan ibuknya.

***

Keesok harinya keluarga sima dikabarkan oleh petugas satlantas kepolisian dan pihak rumah sakit bahwa anaknya mengalami kecelakaan yang cukup serius.

Mendengar kabar itu orang tua sima langsung terkejut dan ibuk sima sempat pingsan mendegar kabar itu, tidak nunggu lama orang tua sima berangkat ke kota timur menjumpai anak sematang wayangnya tersebut. 

" sima anak ku bagaimana keadaanmu nak, apa yang kamu rasakan saat ini ?. Kata orangtua sima sambil menangis tersendu sendu di hadapan sima.

" ibuk bapak maafin sima buk, selama ini sima salah sima jalan jalan dengan teman tidak meminta izin terlebih dahulu seadainya sima waktu itu nurutin kata ibuk dan bapak sima tidak seperti ini. Kata sima sambil menangis dan merasa bersalah kepada orangtuanya. 

Pada akhirnya ibuk sima tidak bisa mengungkapkan kata-kata lagi dengan melihat kondisi anak semata wayangnya saat ini, hanya bisa pasrah dan ikhtiar dengan takdir Allah yang telah menimpa keluarganya.


----The End----



Komentar

Postingan Populer